
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, berencana bertemu dengan DPRD Kota Jogja guna membahas kemungkinan pembayaran iuran sampah dengan tarif yang lebih terjangkau.
Ia menjelaskan bahwa retribusi sampah bagi setiap Kepala Keluarga (KK) sebaiknya dipatok sebesar Rp3000.
Hal tersebut menurutnya berupaya untuk dilakukan agar retribusi lebjh terjangkau sekaligus menekan kemungkinan masyarakat membuang sampah ke Depo, namun melalui peng gerobak.
Salah satu fokus utamanya dalam 100 hari kerja pertama Hasto-Wawan adalah menyelesaikan masalah sampah dengan membersihkan sampah di depo-depo.
“Jika ada yang tidak mampu membayar iuran, maka bisa gotong royong ditolong. Saya akan berusaha ke DPRD,” ujarnya Hal tersebut ia jelaskan saat Safari Subuh di Masjid Al-Mustaghfirin, Kampung Winong, Prenggan, Kotagede, Kota Jogja, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Minggu (9/3/2025).
Namun, ia juga menekankan bahwa ia tidak menutup kemungkinan untuk tidak membebankan biaya tersebut sama sekali.
“Masyarakat bisa fokus gotong royong mengelola sampah di lingkungan,” imbuh Hasto.
Ia menyampaikan kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh Presiden Prabowo yang berpengaruh pada pengelolaan anggaran daerah. Jika pengelolaan sampah hanya diserahkan ke pemerintah, ia menyampaikan anggaran akan habis.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah kota dalam mencari solusi yang efektif dan efisien.
Dirinya mengharapkan agar warga menghidupkan kembali semangat Segoro Amarto, yang merupakan singkatan dari Semangat Gotong Royong Agawe Majuning Ngayogyakarta (Segoro Amarto).
Menurutnya, semangat ini perlu ditumbuhkan agar masyarakat bisa lebih peka terhadap pentingnya hidup saling bergandengan tangan untuk mengatasi masalah di sekitar mereka.
“Kami ndherek (ikut) titip gotong royong segoro amarto itu penting sekali. Jangan lupa kita tulung tinulung dengan tetangga-tetangga gandeng gendong segoro amarto,” kata Hasto. (Hus)