
Kabupaten Bantul menunjukkan kemandirian dalam pengelolaan sampah dengan hadirnya incinerator atau pembakaran sampah yang terletak di Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran, Kapanewon Pleret.
Meski belum beroperasi secara resmi, keberadaan fasilitas ini memberikan potensi lebih besar dalam pengolahan sampah di Bantul, terutama dengan adanya beberapa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Sebagai bagian dari peringatan Hari Sampah Nasional dan kolaborasi antar wilayah untuk mewujudkan DIY Bersih, ITF Bawuran diperkenalkan kepada sejumlah kepala daerah.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengungkapkan bahwa fasilitas ini memiliki kapasitas untuk membakar 50 ton sampah residu per hari, dari total 300 ton sampah yang telah dipilah.
“Fasilitas ini dapat menginsinerasi 50 ton sampah residu per hari, yang dihasilkan dari proses pemilahan sampah. Sampah yang tidak bisa dimanfaatkan akan dipilah dan dibakar sehingga menghasilkan abu,” katanya saat diwawancarai wartawan dalam acara kolaborasi pengelolaan sampah di ITF Bawuran, Pleret, DIY, Selasa (11/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa sekitar 15 persen dari total sampah di Bantul adalah sampah residu, dan untuk Bantul sendiri memiliki potensi sampah sebanyak 276 ton per hari.
Halim menambahkan bahwa ITF Bawuran tidak hanya akan mengelola sampah dari Bantul saja, melainkan juga dari daerah lain, seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, yang juga memiliki masalah sampah yang signifikan. Untuk tarif, insinerator ini akan dikenakan biaya sekitar Rp450 ribu per ton.
Halim juga menyatakan bahwa pihaknya berencana untuk merumuskan tarif insinerasi secara lebih formal melalui peraturan terkait pengolahan sampah agar lebih seragam di wilayah Bantul.
Halim optimis bahwa dengan adanya lebih banyak TPST seperti Modalan, Niten, dan Dingkikan, pengolahan sampah di Bantul akan semakin maksimal, meskipun beberapa di antaranya masih dalam perbaikan.
Ke depannya, TPST ini akan berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), yang memungkinkan pengelolaan anggaran secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada APBD, kecuali untuk penyertaan modal. Halim yakin, dengan potensi pengolahan sampah yang ada, program Bantul Bersih Sampah 2025 (Bersama) bisa tercapai.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menilai bahwa beroperasinya ITF Bawuran dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah di DIY, terutama di Kota Yogyakarta. Hasto menyebutkan bahwa saat ini, Kota Yogyakarta hanya mampu mengelola 150 ton sampah per hari dari total sampah yang ada sebanyak 300 ton per hari.
“Dengan adanya ITF Bawuran, kami memiliki outlet utama untuk mengelola sampah, karena saat ini kapasitas kami terbatas hanya pada 150 ton dari 300 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya,” ujar Hasto dalam acara tersebut
Direktur PD Aneka Darma, Yuli Budi Sasangka, menjelaskan bahwa operasional ITF Bawuran akan dilakukan melalui skema kerja sama operasional dengan berbagai pihak.
Meskipun memiliki kapasitas untuk membakar 50 ton sampah per hari, insinerator ini akan digunakan secara bertahap.
Sebelum dioperasikan, mesin insinerator tersebut telah menjalani uji kualitas udara yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Lingkungan DLHK DIY. Hasil uji menunjukkan bahwa Total Suspended Particulates (TSP) mencapai 231,55 mikrogram per meter kubik, sedikit melebihi baku mutu yang ditetapkan, yaitu 230 mikrogram per meter kubik.
“Sebelum mesin insinerator dioperasikan di Bantul, kami sudah melakukan uji emisi dengan hasil yang menunjukkan bahwa semua parameter berada di bawah baku mutu lingkungan,” jelas Yuli Budi Sasangka. (Hus)