PNG

Menyajikan Berita Tepat Akurat Dan Terpercaya

April 27, 2026
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Aksi demonstrasi siswa SMKN 2 Surakarta akibat sekolah diduga lalai menyelesaikan finalisasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), Senin (3/2/2025). (foto: Istimewa)

Kabarangkringan, Solo – Diperkirakan ratusan siswa SMKN 2 Surakarta, Jawa Tengah, terancam tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk masuk perguruan tinggi.

Hal ini diduga disebabkan oleh kelalaian pihak sekolah dalam menyelesaikan finalisasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Demonstrasi digelar di halaman sekolah, aksi ini diikuti sejumlah ratusan siswa bersama orang tua/wali murid, Senin (3/2/2025),  

Mereka memprotes keterlambatan yang membuat siswa kehilangan kesempatan untuk mengikuti SNBP.

Salah satu orang tua/wali murid, Nayla, menyatakan bahwa akibat keterlambatan finalisasi ini, siswa tidak dapat mendaftar SNBP.

“Jadi ini semua udah enggak bisa daftar. Terus yang diharapkan kedepan seperti apa? Kenapa tidak sampai mundur? Ada tanggung jawab dari sekolah gak? Sekolah ngasih solusi SNBT,  tapi SNBT itu kan sudah beda.” Kata Nayla.

Selain itu, seorang siswa bernama Aura mengaku kecewa terhadap pihak sekolah karena gagal menyelesaikan finalisasi PDSS.

“Kalau misalnya usaha sekolah ini enggak berhasil, kan berarti harusnya ada bentuk pertanggungjawaban lain,” kata Aura di sela-sela aksi demonstrasi.

“Menurut saya, bimbingan UTBK itu tidak sepadan. Saya belajar UTBK lama pun sampai sekarang belum 100 persen bisa. Apalagi dengan waktunya yang singkat dan sedikit,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa bimbingan untuk UTBK yang diberikan sekolah tidak cukup untuk menggantikan kesempatan mengikuti SNBP.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Nurgiyanto, menyatakan bahwa setelah aksi ini, Kepala SMKN 2 Surakarta, Sugiyarso, bersama perwakilan siswa, wali murid, tim PDSS, serta perwakilan dari Cabang Dinas Pendidikan Surakarta akan berangkat ke Jakarta untuk mengajukan keringanan ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Mereka berharap siswa tetap diberi kuota untuk mengikuti SNBP.

Sementara itu, sejumlah spanduk berisi kritik terhadap pihak sekolah terpasang di area sekolah, di antaranya bertuliskan: “Pray for Stemsa”, “Kami Berhak SNBP”, “Guru Lalai Kami Terbengkalai”, dan “Jaga Nama Baik Sekolahmu?”

Hingga saat ini, siswa dan orang tua/wali murid masih menunggu kepastian dari kementerian terkait nasib mereka dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi. (st)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *