
Hari Perempuan Sedunia 2025 yang jatuh pada 8 Maret lalu menjadi momen berharga bagi kaum perempuan. Perayaan ini menjadi ajang refleksi dan penguatan kesadaran mengenai peran serta hak-hak yang mereka miliki.
Peluang bagi perempuan untuk berkarir semakin terbuka, memberikan harapan baru bagi mereka dalam mengembangkan potensi diri. Dengan demikian, perempuan dapat berkontribusi lebih luas dan menciptakan kesetaraan peran dengan laki-laki di berbagai bidang.
Di Indonesia, banyak perempuan yang telah mandiri dan berdaya. Dengan kerja keras dan tekad yang kuat, mereka tidak hanya menjalankan peran dalam ranah domestik tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dan mengatasi ketakutan dalam perjalanan hidupnya.
Salah pengusaha inspiratif adalah Putri Ramadhany, yang sukses meniti karier di dunia fashion melalui brand fashion asal Jogja miliknya, Tana Bulaan. Ia mengangkat keindahan wastra Nusantara dalam desain busana yang ia ciptakan.
Selain itu, perannya sebagai Presiden Junior Chamber International (JCI) Jogja juga menunjukkan kepeduliannya terhadap penguatan kelompok masyarakat. Dirinya juga meniti langkahnya dengan bergabung dalam Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Sebagai perempuan mandiri, Putri memiliki pandangan mendalam tentang makna kekuatan perempuan. Baginya, perempuan yang tangguh tidak mudah menyerah dan tetap berusaha berkembang, terutama dalam dunia bisnis dan organisasi.
“Dalam dunia bisnis dan organisasi, perempuan hebat adalah mereka yang adaptif, inovatif, dan mampu memimpin dengan hati serta visi yang kuat. Terdapat hak yang sama (dengan laki-laki) terutama dalam kepemimpinan,” katanya saat diwawancarai kabarangkringan.com pada Minggu (10/3/2025).
Menurut Putri, perempuan memiliki keunikan tersendiri dalam kepemimpinan, yaitu kelembutan dan sisi manja yang justru menjadi kekuatan dalam menjalankan tugasnya dengan pendekatan lebih humanis.
Wanita dengan akun Instagram Putri Ramadhany tersebut menekankan bahwa perempuan yang berperan sebagai pemimpin harus mampu mengatur waktu dengan baik, memahami prioritas, serta belajar mendelegasikan tugas agar perannya tetap seimbang.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan dalam kepemimpinan adalah stereotip yang meragukan kapasitas mereka dalam mencapai kesuksesan, terutama di dunia bisnis. Namun, Putri menegaskan bahwa ia mampu menghadapi tantangan tersebut dengan sikap mandiri dan pantang menyerah.
“Cara mengatasinya adalah dengan terus meningkatkan kapasitas diri, membangun jejaring yang solid, dan membuktikan melalui karya serta kontribusi nyata. Perempuan bisa tetap menjadi pemimpin yang berwibawa, tanpa harus kehilangan kelembutan dan sisi manjanya. Justru, kombinasi antara ketegasan dan kelembutan inilah yang menjadikan kepemimpinan perempuan semakin unik dan berpengaruh,” katanya.
Fashion Sebagai Media Ekspresi
Putri berpendapat bahwa fashion merupakan salah satu cara seseorang mengekspresikan pikiran dan mencerminkan perubahan sosial. Dulu, perempuan kerap merasa terbatas dalam berekspresi karena anggapan bahwa cara berpakaian mereka bisa menjadi hambatan dalam berinteraksi dengan dunia luar.
“Perempuan kini lebih bebas mengekspresikan diri, menunjukkan identitas, dan menggunakan fashion sebagai bentuk perlawanan terhadap batasan sosial. Bahkan, dalam dunia kepemimpinan, perempuan tidak perlu mengorbankan sisi feminin mereka,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi dan globalisasi semakin membuka peluang bagi perempuan untuk berkarya. Dengan adanya teknologi, mereka bisa menciptakan ide dan gagasan tanpa harus terhambat oleh batasan sosial.
Namun, perkembangan zaman yang begitu cepat juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, perempuan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan baik.
“Yang menarik, di era digital ini, sisi manja dan kelembutan perempuan justru bisa menjadi keunggulan, karena kepribadian yang hangat dan otentik lebih mudah membangun koneksi di dunia online,” ujarnya.
Bergabung dalam organisasi, menurutnya, bukan alasan untuk merasa minder terhadap kemampuan orang lain. Sebaliknya, hal ini justru dapat menjadi pemicu kesuksesan dan membantu perempuan mengembangkan karier mereka.
Ia berpesan agar perempuan tidak merasa malu atau takut dalam meniti karier. Baginya, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
“Perempuan bisa sukses dengan cara mereka sendiri, ketegasan, kelembutan, bahkan sedikit sisi manja yang justru membuat mereka lebih menarik dan mudah diterima dalam berbagai lingkungan,” katanya. (Hus)