PNG

Menyajikan Berita Tepat Akurat Dan Terpercaya

April 22, 2026
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Pemerintah Kota Yogyakarta resmi mengeluarkan kebijakan moratorium pembangunan hotel di kawasan Sumbu Filosofi, sebagai upaya pelestarian kawasan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Kebijakan ini ditandatangani langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, dan mulai berlaku sejak Mei 2025. Moratorium ini bertujuan menjaga keseimbangan tata ruang dan mendukung pelestarian kawasan warisan budaya dunia.


Apa Itu Sumbu Filosofi?

Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah garis imajiner yang membentang dari Gunung Merapi – Kraton Yogyakarta – Pantai Selatan (Parangtritis). Kawasan ini dianggap sakral dalam tata ruang kota dan mencerminkan nilai-nilai filosofi Jawa tentang keseimbangan alam, manusia, dan spiritualitas.

Pada tahun 2023, kawasan ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO, sehingga pengelolaannya harus mengikuti kaidah pelestarian internasional.


Mengapa Moratorium Diberlakukan?

Kebijakan moratorium ini lahir dari kekhawatiran akan pertumbuhan pesat hotel dan penginapan di pusat kota yang berpotensi merusak tata ruang dan identitas budaya kawasan Sumbu Filosofi.

Wali Kota menyatakan bahwa pembangunan hotel baru untuk sementara dihentikan, terutama di wilayah:


Pernyataan Resmi Wali Kota

“Kami ingin menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya. Kawasan Sumbu Filosofi harus tetap utuh, lestari, dan menjadi ruang edukasi spiritual dan budaya bagi generasi mendatang.”


Dampak Kebijakan Ini

  1. Investasi properti baru di kawasan Sumbu Filosofi akan ditunda.
  2. Pemerintah akan menata ulang tata ruang dan melakukan audit lingkungan.
  3. Pengusaha hotel diminta ikut menjaga keseimbangan lingkungan budaya.
  4. Kegiatan budaya lokal akan lebih diaktifkan di kawasan ini.

Upaya Pelestarian Lain

Kebijakan moratorium ini dilengkapi dengan program:

Langkah moratorium ini merupakan bentuk komitmen serius Pemkot Yogyakarta dalam menjaga warisan budaya dunia. Bagi wisatawan, kawasan Sumbu Filosofi tetap terbuka, namun akan dikelola lebih ketat agar tidak kehilangan nilai filosofis dan budayanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *