PNG

Menyajikan Berita Tepat Akurat Dan Terpercaya

April 21, 2026
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Herum Fajarwati saatbdiwawancarai wartawan pada Senin (3/3/2025) di Kantor BPS DIY, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. Foto: Hadid Husaini

Provinsi DIY mengalami deflasi (penurunan harga) selama bulan Februari 2025 cukup dalam atau sebesar 0,86 persen secara month to month (m-to-m) berdasarkan Indeks Harga Konsumen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Herum Fajarwati menyampaikan bahwa deflasi pada bulan Februari merupakan yang terdalam dalam beberapa waktu terakhir.

“Bahkan untuk tahun 2025 secara berurutan Januari-Februari untuk DIY mengalami deflasi,”katanya saat memimpin rilis statistik di Kantor BPS DIY, Tamantirto, Kasihan, Bantul pada Senin (4/2/2025).

Herum menyebut angka deflalsi sebesar 0,86 persen di 2 bulan pertama tahun 2025 tersebut masih belum dalam tahap aman bagi masyarakat, mengingat tarif listrik masih berpotensi terjadi kenaikan yang akan mengakibatkan inflasi.

Beberapa kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi adalah pada sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar Rumah tangga dengan inflasi 6,49 persen atau memberikan andil deflasi sebesar 1,04 persen.

Dari beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok perawatan dan jasa lainya mengalami inflasi sebesar 1,40 persen dengan andil 0,09 persen. Disusul oleh kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 0,34 persen dengan andil 0,04 persen.

“Pada kelompok makanan minuman dan tembakau yang relatif tidak mengalami perubahan untuk beberapa subsektor ada yang mengalami inflasi maupun deflasi yang memberikan keseimbangan. Sehingga dari sub kelompok pengeluaran tidak mengalami perubahan,” katanya.

Ia menyampaikan beberapa komoditas menjadi pendorong terjadinya deflasi selama Februari, antara lain tarif listrik (1,05 persen), bawang merah (0,04 persen), cabai merah (0,04 persen), daging ayam ras (0,02 persen), kacang panjang (0,02 persen).

Dari segi komoditas yang memjadi penghambat deflasi atau mengalami inflasi antara lain emas perhiasan (0,08 persen), sigaret kretek mesin (0,05 persen), sigaret kretek tangan (0,05 persen), bensin (0,03 persen), dan wortel (0,02 persen).

“Deflasi pada tarif listrik terjadi karena ada diskon 50 persen. Pada Februari prabayar- pascabayar sudah terdeteksi (pembayarannya), sedangkan Januari baru yang prabayar,” katanya.

Sedangkan secara year on year (Y-on-Y), BPS DIY juga mencatat deflasi sebesar 0,30 persen. “Ini merupakan inflasi year on year yang mengalami deflasi pada beberapa tahun terakhir,” kata Herum

“Secara kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah perumahan air listrik dan perumahan rumah tangga sebesar 12,21 persen dengan andil 2,10 persen,”katanya.

Sementara untuk menghambat atau kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainya dengan inflasi 10,14 persen atau memberikan andil 0,60 persen. 

Beberapa komoditas yang mendorong terjadinya deflasi year on year antara lain tarif listrik sebesar (2,32 persen), beras (0,25 persen), dan cabai merah (0,14 persen). Sementara penghambat atau komoditas yang mengalami inflasi antara lain emas perhiasan sebesar (0,45 persen), kopi bubuk (0,19 persen)  dan sigaret kretek mesin (SKM) (0,10 persen). (Hus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *