PNG

Menyajikan Berita Tepat Akurat Dan Terpercaya

April 28, 2026
Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Penampilan pemeran menggunakan wastra abdi dalem dalam Pembukaan Pameran Temporer “Hamong Nagari” Aparatur Nagari Yogyakarta di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Jumat (7/3/2025). Foto: Hadid Husaini

Sebanyak 15 jenis pakaian atau wastro yang dikenakan oleh abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dipamerkan dalam acara Pameran Temporer bertajuk “Hamong Nagari” Aparatur Nagari Yogyakarta.

Pameran ini berlangsung di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan resmi dibuka pada Jumat, 7 Maret 2025. Masyarakat umum dapat mengunjungi pameran ini mulai 8 Maret hingga 25 Agustus 2025.

Pameran ini bertujuan untuk mengajak masyarakat memahami dan menghayati nilai-nilai pengabdian yang dilakukan oleh para abdi dalem. Setiap pakaian yang ditampilkan tidak hanya sekadar busana, tetapi juga mencerminkan struktur sosial, pangkat, serta filosofi yang berkaitan erat dengan budaya Keraton Yogyakarta.

Acara pembukaan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Bendara, serta disaksikan oleh ratusan pengunjung yang antusias menyaksikan koleksi wastro dari berbagai periode. Ragam atribut dalam pakaian-pakaian tersebut tetap dijaga dan dilestarikan hingga kini.

Dalam sambutannya, Sri Sultan HB X menegaskan bahwa eksistensi Keraton Yogyakarta tidak terlepas dari peran abdi dalem yang telah mengabdikan diri dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan keraton. Beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka dengan mengatakan, “Sejarah Keraton menurutnya tidak bisa dilepaskan atas pengabdian dari para abdi dalem.”katanya.

Sultan juga menekankan bahwa aparatur nagari menjadi simbol harmoni antara pemimpin dan rakyat. “Aparatur nagari adalah representasi dari harmoni antara kepemimpinan dan rakyat. Mereka adalah perwujudan makna Manunggaling Kawula lan Gusti sekaligus jembatan yang menghubungkan kepemimpinan dengan pengabdian,” ujarnya.

Selain sebagai simbol dalam laku dan tutur, nilai-nilai yang dijunjung oleh abdi dalem juga tercermin dalam bentuk pakaian atau wastro. Dalam tradisi Keraton, wastro bukan sekadar busana, melainkan juga memiliki makna mendalam sebagai lambang kewibawaan dan keberanian.

Sultan menjelaskan, “Ini merupakan simbol kewibawaan dan kawiryan yang mencerminkan ajining diri ono ing lathi, ajining rogo ono ing busono (harga diri seseorang ada pada ucapan, harga diri raga ada di pakaian).”jelas Sultan.

Salah satu yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah wastro Palawija, yang dikenakan oleh abdi dalem dengan kondisi fisik khusus. Carik Kawedanan Tandayekti Keraton Yogyakarta, Kanjeng Mas Tumenggung Somarto Wijoyo, menjelaskan bahwa keberadaan abdi dalem Palawija mencerminkan inklusivitas yang telah lama dijunjung oleh Kesultanan Yogyakarta.

“(Wastro Abdi Dalem Palawija) berdasarkan data dan fakta yang sudah dilaksanakan di Hamengku Buwono sebelumnya. Saat ini ditonjolkan dan ditampilkan kembali untuk mengingatkan masyarakat bahwa Kesultanan Yogyakarta memiliki perhatian terhadap masyarakat lainnya,” katanya. (Hus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *