
Public Relation Manager Hotel Tentrem, Venta Pramushanti menyampaikan bahwa bukan internal hotel yang mengupload foto latar Candi Prambanan karya Fotografer Bambang Wirawan pada laman destinasi di website.
Foto tersebut disebutnya diupload oleh developer yang bekerjasama dengan Hotel Tentrem asal Singapura. Foto tersebut disebutnya sebagai pelengkap difungsikan hanya sebagai pelengkap. “Setelah kami cek lagi ternyata di upload oleh developer. Karena mereka developer web sudah cukup profesional, jadi kami pikir oke dari perizinan dan segala macam,” ujarnya saat dihubungi kabarangkringan.com, Minggu (2/2/2025)
“Ya memang kami selalu berkomunikasi dengan pihak developer nya di Singapura, bukan perusahaan dari sini (Indonesia) ya, soalnya kita masukin aja foto buat membantu hotel.
Karena waktu itu ada deadline, dan mereka mengakui jika foto tersebut didapatkan dari internet,”ujarnya.
Ia menyampaikan, Hotel Tentrem sebelumnya melakukan kerjasama untuk mengembangakan laman website sejak 2017 dan tidak mengetahui mekanisme yang dibutuhkan dalam mengembangkan laman website perusahaan.
“Jadi waktu itu kurang tahu bagaimana ceritanya biar dapat foto, dan (developer) mengunggah foto itu. Mungkin mereka googling dan dapat itu. Dari developer mangku mereka yang upload. Karena dari traffic kelihatan siapa yang upload,” jelasnya.
“Ya biasanya sih ada IP nya ketahuan (pengupload) dan sudah kami sampaikan ke pak Bambang,” katanya.
Dirinya menyampaikan menghormati segala proses yang berjalan. Kendati begitu dirinya mengaku cukup kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh Bambang karena pihaknya langsung melakukan laporan ke Polda DIY sebelum akhirnya melakukan somasi ke pihaknya.
“Ya sebenarnya kami sudah ada mediasi menyambut halterseut bentukanya seperti apa, itu yang dibicarakan. Tapi mau tidak mau ini sudah ke ranah hukum, Pak Bambang sudah mengajukan ke Polda DIY dulu,” ujarnya.
“Kalau ke Hotel Tentrem kan,bagaimana negonya, kalau nggak sesuai, baru dilaporkan (ke Polda DIY). Mau gak mau sudah di ranah hukum karena dari awal sudah dibawa ke situ,” katanya.
Pihaknya juga terkejut sebelumnya saat Bambang melakukan Jumpa Pers dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta pada kamis (30/1/2025) yang dimana keduanya saat itu masih dalam proses mediasi.
Sementara itu, Bambang Setyanto saat menggelar jumpa pers di LBH Yogyakarta menyampaikan jika penggunaan foto pada laman website hotel tentrem menggunakan resolusi yang cukup besar. Ia tidak mengetahui bagaimana developer website Hotel tentrem mengambil karya miliknya, sementara dirinya tidak merasa mengkomersilkan karyanya.
“saya tidak tahu biar penyidik yang mendalami hal tersebut, jika ditemukan unsur pembajakan ancaman hukum nanya akan jauh lebih berat dari apa yang disampaikan sebesar Rp4 miliar, apabila ditemukan unsur pembajakan,” katanya pada Kamis (30/1/2025).
Bambang menyampaikan jika selama ini komunikasi yang dibangun dengan Hotel Tentrem cukup terbatas, kendati begitu pihaknya melihat masih ada itikad baik dari hotel yang ingin melakukan restorative justice.
“Ada kemungkin restorative justice seperti yang disampaikan sebelumnya. Karena karya seni diciptakan untuk menyenangkan orang, bukan membuat orang saling bersandar. Tapi kali ini saya bersedih dan terpuruk dan merasa dirugikan
“Saya hidup 20 tahun lebih sebagai fotografer dan tidak ada mata pencaharian lainya dan kemudian ada karya saya yang dilanggar seperti saat ini. Saya sedih, marah, dan kecewa,” pungkasnya. (Hus)