
Yogyakarta – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menanggapi penutupan total Plengkung Nirbaya (Plengkung Gading) yang mulai berlaku pada Sabtu (15/3/2025).
Ia mengimbau warga, khususnya yang tinggal di dalam benteng (Jeron Beteng), untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru ini, terutama terkait mobilitas keluar-masuk wilayah selatan.
“Saya melihat ada retakan pada bangunan, jadi lebih baik jika diamankan,” ujar Hasto dalam wawancara pada Minggu (16/3/2025).
Jalur Alternatif Pasca-Penutupan
Hasto menyadari bahwa kebijakan ini memaksa warga mencari jalur alternatif untuk keluar dari beteng.
✅ Ke arah selatan: Lewat Pojok Beteng Kulon atau THR
✅ Dari luar kota: Mobilitas tidak terlalu terdampak
Meski begitu, ia belum bisa memastikan dampak penutupan ini terhadap sektor pariwisata di Jeron Beteng, terutama bagi wisatawan yang mengunjungi Alun-alun Kidul (Alkid).
Dampak Penutupan Plengkung Nirbaya
Lurah Patehan, Gunawan Sigit Putranto, menegaskan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari upaya konservasi cagar budaya.
“Ditemukan keretakan pada bagian-bagian fisik Plengkung Nirbaya, terutama di bawah spion ruang intai. Jika tidak segera diselamatkan, bisa mempengaruhi struktur bangunan,” jelas Gunawan.
Beberapa dampak utama yang dirasakan masyarakat antara lain:
Mobilitas siswa → Siswa dari SD Keputran A, SD Keputran 2, SMP Muhammadiyah 5, dan SMP Negeri 16 harus memutar jalur melalui Madyosuro atau Tamansari.
Penurunan wisatawan → Penutupan akses dari sisi selatan dapat berdampak pada jumlah pengunjung Alkid, yang berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
Penutupan Plengkung Nirbaya merupakan langkah penting untuk konservasi cagar budaya, meski membawa tantangan baru bagi mobilitas warga dan perekonomian sekitar.
Warga diimbau untuk menyesuaikan diri dengan jalur alternatif yang tersedia, sementara pemerintah terus memantau dampak kebijakan ini terhadap sektor wisata dan ekonomi (Hus).