
Sleman – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada Rabu (26/2/2025) hadir di SMP Negeri 1 Turi dalam acara Selebrasi Hari Bahasa Ibu Internasional 2025. Rombongan Mendikdasmen disambut penampilan Tari Sebulak (seni budaya salak) sebuah tarian kontemporer tentang budidaya salak, yang dibawakan siswa SMPN 1 Turi Sleman.
Selanjutnya Menteri Abdul Mu’ti melaksanakan Senam Anak Indonesia Hebat bersama keluarga besar SMPN 1 Turi, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, jajaran Pimpinan UPT Kemendikdasmen di DIY, serta para pejabat Dinas Dikpora Kabupaten Sleman. Acara dilanjutkan dengan sarapan bergizi bersama.
Di sela acara makan bersama, Abdul Mu’ti berbincang santai dengan para siswa SMPN 1 Turi. Dalam perbincangan ini para siswa antusias menyimak penjelasan Abdul Mu’ti tentang budaya Jawa, termasuk nama-nama hari dan pasaran, serta makna aksara Jawa hanacaraka.
Selanjutnya dalam acara formal, Mendikdasmen menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 817 bahasa daerah. Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Menurut Mendikdasmen, multikulturalisme telah menyiratkan rangsangan positif terhadap perbedaan budaya termasuk bahasa. Namun demikian beberapa negara tidak memberi ruang untuk pengembangan bahasa daerah sebagai indentitas suku bangsa.
Indonesia menurut Abdul Mu’ti memberi ruang untuk mengembangkan bahasa daerah sebagai bagian untuk upaya membangun semangat ke-Indonesia-an dan rasa cinta tanah air. “Mari kita laksanakan trigatra yaitu Bahasa Indonesia kita utamakan, bahasa daerah kita lestarikan, dan bahasa asing kita kuasai,” tegasnya.
Mendikdasmen mengajak agar kita berbangga dengan Bahasa Indonesia dan menguasainya dengan mahir. Adapun mengenai pelestarian bahasa ibu, menurut Abdul Mu’ti dapat dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, bahasa daerah merupakan mata pelajaran di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal yang harus dipelajari murid. “Kekayaan bahasa daerah luar biasa, misalnya ungkapan kunduran sepur tidak dapat diterjemahkan ke bahasa lain, maka bahasa daerah ditanamkan kepada anak,” jelasnya.
Kedua, bahasa daerah dijadikan alat komunikasi dalam kehidupan sehari hari. Inipun menurut Abdul Mu’ti tidak mudah, bila diperhatikan di tempat umum berbagai petunjuk lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris daripada Bahasa Jawa. Padahal menurut Mendikdasmen, beberapa negara seperti Jepang dan Cina, menurutnya menggunakan bahasa daerahnya untuk kegiatan sehari-hari, sehingga jarang ada petunjuk yang tidak berbahasa Jepang atau Cina.
Ketiga, bahasa daerah dapat digunakan untuk bahasa ilmu pengetahuan. Menurut Abdul Mu’ti banyak cara untuk melestarikan bahasa daerah, contohnya Didi Kempot melestarikan bahasa Jawa dengan lagu populer diiringi musik tradisional dipadu dengan instrumen modern.

Mendikdasmen mengungkapkan bahwa dirinya mulai belajar lagu-lagu Jawa saat sekolah di Australia, karena pada momen tertentu mahasiswa diminta menunjukkan darimana asalnya beserta dengan budaya aslinya.
Oleh karena itu, Abdul Mu’ti mendukung SMPN 1 Turi dalam pelestarian Bahasa Jawa, dengan demikian dapat dikatakan bahwa sekolah ini telah menterjemahkan tujuan kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya dalam bermasyarakat melalui pelestarian Bahasa Jawa.
Mendikdasmen mengajak untuk mengimplementasikan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam rangka mewujudkan generasi emas Indonesia yang maju bermartabat dan berkeadaban tinggi.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa menyampaikan apresiasi kepada SMPN 1 Turi yang meraih nominasi terbaik di DIY sebagai sekolah pelestari Bahasa Jawa. Kunjungan Mendikdasmen menurut Danang akan menjadi motivasi bagi para siswa dalam belajar Bahasa Jawa.
Menurut Danang, Indonesia bersyukur karena dibandingkan dengan negara lain disini memiliki khasanah bahasa daerah yang sangat banyak. “Kita kaya dengan bahasa daerah, maka sebagai orang Jawa harus melestarikan bahasa Jawa, karena bahasa adalah kekayaan budaya yang bisa menjadi pemersatu yang efektif dengan fungsinya sebagai alat komunikasi,” pungkasnya. (st)