
Kabarangkringan, Sleman – Penekanan pentingnya membiasakan siswa membaca dan memahami sumber belajar agar memperoleh pengetahuan serta pengalaman baru, merupakan suatu ‘keharusan’ yang diterapkan di SMPN 1 Turi Sleman. Literasi menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara Guru Matematika di SMPN 1 Turi Sleman, Rini Utami, dengan Yudha Kurniawan dari Tim Pubkom BPMP DIY, Rabu (26/2/25), di sela kunjungan Mendikdasmen Abdul Mu’ti ke SMPN 1 Turi dalam rangka Selebrasi Hari Bahasa Ibu Internasional 2025. “Kami memiliki jadwal literasi untuk tujuan pembiasaan setiap Rabu selama 20 menit,” jelasnya.
Rini juga menambahkan bahwa dalam pembelajaran matematika, siswa didorong untuk berliterasi secara aktif melalui pemahaman dan pemecahan masalah yang diberikan oleh guru. “Untuk memahami sebuah masalah dan memecahkannya tentu mereka perlu melakukan aktivitas membaca,” lanjutnya.
Selain itu, SMPN 1 Turi juga berkomitmen dalam membina karakter siswa dengan menerapkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Salah satu strategi yang diterapkan adalah membiasakan siswa bangun pagi dengan mengadakan les akademik pada jam ke-0.
“Kami selalu memotivasi siswa untuk bangun pagi. Strateginya adalah dengan mengadakan peningkatan mutu akademik berupa les pada jam ke-0, sehingga menciptakan atmosfer anak untuk bangun pagi, meski sulit memonitornya” tambah Rini.

Rini menjelaskan bahwa untuk membentuk kebiasaan beribadah, sekolah menyelenggarakan shalat Dzuhur berjamaah. Karena akan terasa ringan jika dikerjakan secara berjamaah dan juga mereka terbiasa melaksanakannya di awal waktu.
SMPN 1 Turi juga menerapkan kebiasaan hidup sehat dengan mengadakan Senam Anak Indonesia Hebat serta jalan sehat setiap Jumat pagi. Kebijakan lain yang diterapkan adalah mewajibkan kantin sekolah untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi siswa.
Sekolah juga melibatkan masyarakat luar dalam membangun kesadaran sosial, terutama untuk penerapan Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Berbagai momen keagamaan juga dimanfaatkan sebagai ajang meningkatkan kepedulian sosial siswa.
“Contohnya dalam momentum Idul Adha, siswa turut dilibatkan dalam berbagi daging kurban, sedangkan saat Idul Fitri, mereka menyalurkan zakat fitrah kepada masyarakat dan pesantren. Sekolah juga menggalang pengumpulan pakaian layak pakai untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Rini
Sebagai bagian dari penguatan karakter dan pelestarian budaya, SMPN 1 Turi juga memiliki program Nembang Sapa Jawa yang dilakukan setiap pagi sebelum jam pertama dimulai. “Dengan nembang bersama sebelum pelajaran, anak-anak akan merasa lebih happy sebelum menerima berbagai materi dari guru,” pungkas Rini.
Melalui berbagai kebiasaan baik yang diterapkan, SMPN 1 Turi terus berupaya mencetak generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Program-program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. (st)