
Di tengah efisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah, Sekolah Lansia Kalimasada yang ada di Padukuhan Kayunan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap berjalan secara mandiri dengan mengandalkan seluruh potensi yang ada.
Pada Sabtu (22/2/2025) di Pendopo Kalimasada, puluhan lansia tampak antusias mendengarkan materi dari para kader meskipun hujan deras mengguyur sejak siang hari.
Mereka terlebih dahulu mendapatkan suguhan dengan hangatnya semangkuk bakso dan segelas minuman herbal yang terbuat dari Bunga Telang untuk mendukung aktivitas.
Sejumlah kader Posyandu yang tergabung dalam Bina Keluarga Lansia (BKL) secara serius memperhatikan kondisi warga sekitar yang kini sudah mulai tidak produktif karena dimakan usia.
Aktifnya kegiatan di komunitas tersebut membuat lansia tidak hanya bergantung kepada orang lain dalam menjalankan kehidupannya, namun juga bisa berdaya dan memberikan manfaat kepada sesama.
Melawan Demensia
Kepala Sekolah Lansia Kalimasada, Wasingatu Zakiyah menyampaikan jika para lansia tidak boleh dijauhkan dengan peristiwa masa kecilnya.
Dalam sekolah tersebut, para lansia diminta untuk melakukan aktivitas yang sifatnya menyenangkan seperti berjoget dan bernyanyi lagu-lagu tradisional yang membawa mereka kepada bayangan masa kecil.
“Simbah (kakek/nenek) itu lekat dengan lagu tradisional seperti Cublak-Cublak Suweng, Lir-ilir, dan Jejamuran. Itu mendekatkan dengan apa yang terjadi di masa kecilnya, itu salah satu strategi yang kami lakukan (melawan demensia),” katanya saat diwawancarai.
Kepikunan merupakan musuh bagi mereka yang sudah tidak muda lagi. Hal tersebut, menjadi perhatian khusus bagi Sekolah Lansia Kalimasada (BKL). Menariknya, BKL membuatkan kegiatan kepada lansia untuk pencegahan kepikunan atau anti demensia yang dilakukan setiap pertemuan.
Pentingnya menghilangkan demensia disebut Zakiyah bisa diperlihatkan dalam beberapa kasus seperti hilangnya orang tua dari rumah tanpa kabar. Selain itu, seringnya muncul kecurigaan kepada orang disekitarnya disebabkan oleh kepikunan.
Saling bertemunya anggota kelompok yang sudah berusia lanjut tersebut, tidak hanya akan menumbuhkan semangat, namun juga menumbuhkan kembali memori masa muda yang telah dilewati.
Tidak hanya itu, mereka juga diberikan terapi salah satunya dengan cara berendam dalam air untuk mengurangi risiko gangguan pada saraf.
Zakiya menyebut setiap siswa yang masuk di sekolah tersebut akan melewati 3 standar yang berbeda. Setiap standar perlu dilalui sebelum nantinya para lansia bisa berdaya di lingkunganya.
Ketua Posyandu Kalimasayu, Titik Winarti menyampaikan jika tujuan diadakan komunitas tersebut untuk membuat para lansia bisa lebih bahagia dan sehat.
Awal mula terbentuknya sekolah lansia ini disebutnya dari gerakan Posyandu dan terbentuklah Bina Keluarga Lansia. “Setelah ada BKL baru ada program membuat sekolah lansia,” katanya.
Rata-rata, ada 50 anggota yang hadir di setiap pertemuan dari 155 peserta dari berbagai usia kelompok lansia. Bahkan terdapat anggota yang sudah berumur 80 tahun.
Aktivitas yang dilakukan melalui oleh Sekolah Lansia disebutnya juga menyedot banyak peminat bahkan hingga luar Padukuhan Kayunan. Hingga saat ini, banyak lansia dari luar padukuhan yang juga ingin ikut bergabung.
Program Sekolah Lansia, juga menjadi perhatian bagi Rian Dwi Akmalsah, yang berprofesi dokter, yang juga merupakan warga Padukuhan Kayunanan.
Dirinya juga mengundang rekan-rekannya seprofesi untuk bisa mengabdi untuk bisa memberikan layanan kesehatan di Padukuhan Kayunan.
Dengan pengetahuan dan kemampuan yang ia miliki, Rian menganalisis berbagai macam penyakit yang diderita para lansia di dusunnya. Dirinya merasa tidak ada beban memberikan layanan kepada para lansia di tempatnya tinggal.
Ia menyampaikan setelah memperoleh data melalui skrining selanjutnya akan dilakukan analisa golongan penyakit sesuai dengan permasalahan lansia (14 i).
Menurutnya, kebanyakan masalah yang ada di Padukuhan Kayunan yang dialami para lansia adalah penyakit Degeneratif antara lain hipertensi dan diabetes.
Dengan adanya sekolah lansia ini, harapannya bisa mendeteksi penyakit yang diderita agar untuk bisa diberikan penanganan yang tepat.
“Dari hasil pemeriksaan akan dimasukkan ke sistem. Saat ini kami masih memanfaatkan Google Sheet tapi untuk ke depan akan dikembangkan ke sistem rekam medis,” katanya.
Mengingat dalam memberikan pelayanan kepada para lansia bukan hal gampang. Maka Rian, berharap banyak rekannya yang berprofesi dokter tertarik menjadi relawan di Sekolah Lansia. “Saya sendiri sudah profesi (Dokter). Kebetulan saya juga pengen ajak teman-teman dari UGM dan UII sekiranya belum terjun ke masyarakat untuk bisa terjun bersama,” katanya.
Tetap Hidup Tanpa Bantuan Pemerintah
Kepala Sekolah Lansia Kalimasada, Wasingatu Zakiyah menyampaikan jika komunitas ini selalu difasilitasi dan disupport dari berbagai sisi oleh oleh BKKBN.
Dengan adanya pemangkasan anggaran yang sebagian besar difungsikan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut, seketika dukungan dari pemerintah tidak kunjung turun kendati dinanti oleh para pengurus Posyandu dan Sekolah Lansia.
Ia menyampaikan jika komunitas tersebut digerakkan tidak hanya bergantung pada pendanaan pemerintah semata, namun juga dorongan lainya seperti ilmu, tenaga, hingga fisik yang ada di kampung tersebut.

Gerakan yang dibangun melalui komunitas tersebut, menurutnya membutuhkan perhatian berbagai pihak, sehingga bisa terus berjalan secara mandiri. Dirinya, menyampaikan akan tetap memperjuangkan sekolah lansia berjalan walaupun, tidak mendapatkan anggaran dari pemerintah.
Dia mengingatkan kepada pemerintah agar tidak meninggalkan permasalahan kelompok rentan seperti lansia, karena Keppres No. 1 tahun 2025 dengan tujuan efisiensi anggaran.
“Kami mencoba untuk mendekatkan lansia dengan komunitasnya. Maka pemerintah tidak perlu membuat kegiatan gebyar-gebyar, tapi memberikan perhatian kepada komunitas Posyandu bagi balita, disabilitas, lansia karena ini tidak terpisahkan,” imbuhnya.
“Kami tetap akan terus berdiri tegak di tengah pemotongan anggaran. Kami tidak ingin perlindungan lansia anak ini dipotong oleh pemerintah dengan melakukan perlawanannya dengan cara seperti ini,” katanya.
Kondisi dengan krisis kepercayaan akibat efisiensi anggaran untuk Makan Bergizi Gratis (MBG) disebutnya tidak berpengaruh kepada kehidupan hidup para pejabat. Namun berbeda dengan yang dialami oleh masyarakat.
Zakiyah bakal mengupayakan agar komunitas yang ia gerakkan bisa terus berjalan. Dirinya berujuar jika kekuatan Indonesia yang sebenarnya berasal dari kampung bukan dari kota atau megahnya proyek Ibu Kota Negara (IKN).
Efisiensi disebutnya jangan sampai mengorbankan kondisi masyarakat di akar rumput yang kini semakin terbebani, meski para pejabat hingga saat ini masih bisa menikmati berbagai fasilitas yang diberikan oleh negara.
“Anda (pemerintah) tidak boleh menzalimi kelompok rentan. Anda tidak perlu membeli mobil-mobil Mercy. Kalau mau mengencangkan ikat pinggang ya semua harus mengencangkan,” katanya. (Hus)